Inilah 3 Cagar Biosfer Baru di Indonesia


The 30th International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programme yang diselenggarakan oleh UNESCO di Palembang, 23-28 Juli 2018 telah menetapkan 24 lokasi cagar biosfer baru di seluruh dunia, 3 di antaranya terletak di Indonesia, yaitu Cagar Biosfer Berbak-Sembilang (Prov. Sumatera Selatan-Jambi), Betung Kerihun-Danau Sentarum (Kapuas Hulu, Prov. Kalimantan Barat) dan Rinjani (Prov. NTB) dengan luas total sebesar 7.394.124,12 ha. Program Man and the Biosphere pertama kali dicetuskan pada tahun 1971 dan hingga saat ini telah menetapkan 686 cagar biosfer yang tersebar di 122 negara. Dengan penetapan 3 kawasan tersebut, berarti Indonesia telah memiliki 14 kawasan cagar biosfer.

Cagar biosfer adalah area yang terdiri dari ekosistem darat, laut dan pesisir. Setiap kawasan mendukung upaya harmonisasi antara konservasi keanekaragaman hayati dengan pemanfaatan yang berkelanjutan. Pengelolaan Cagar Biosfer dibagi menjadi 3 zona yang saling berhubungan, yaitu zona inti (core area), zona penyangga (buffer zone) dan zona transisi (transition zone). Zona inti di ketiga Cagar Biosfer yg baru ditetapkan adalah kawasan konservasi yang dikelola sebagai taman nasional.

Kawasan TN Berbak-Sembilang merupakan perwakilan ekosistem hutan rawa gambut yang masih tersisa di bagian Timur Pulau Sumatera. Kawasan ini merupakan habitat bagi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah Asia (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), buaya air asin (Crocodylus porosus), dan lainnya.

Kawasan TN Betung Kerihun-Danau Sentarum merupakan kawasan konservasi lahan basah terbesar di Indonesia. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan keberadaan hutan dipterocarpaceae dataran rendah serta populasi enggang gading (Buceros vigil) yang merupakan maskot Prov. Kalimantan Barat, Harimau dahan (Neofelis nebulosa), serta berbagai tumbuhan dan satwa liar lainnya.

Kawasan TN Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok merupakan daerah bergunung-gunung dengan ketinggian antara 500-3.726 m dpl. Daya tarik utamanya adalah pendakian puncak Gunung Rinjani, Danau Segara Anak serta Desa Adat Senaru dan Air Terjunnya. Beberapa tumbuhan dan satwa liar yang ada di TNGR yaitu Rusa Timor (Cervus timorensis floresiensis), Kakatua Jambul Kuning (Cacatua shulphurea parvula), Leleko/Congkok (Felis bengalensis javanensis), Beringin (Ficus benyamina), Anggrek (Vanda sp.), Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana) dan Bunga Abadi (Anaphalis viscida).

Indonesia boleh berbangga hati dengan penetapan 3 cagar biosfer baru, tetapi perolehan tersebut juga berarti menambah tanggung jawab dan komitmen pengelola dan para pihak yang terkait dalam meningkatkan pengelolaan kawasan. Status cagar biosfer dapat dicabut apabila dalam perkembangannya kawasan mengalami kerusakan parah atau tidak berperan nyata dalam peningkatan kondisi ekosistem, perlindungan, pembangunan berkelanjutan, logistik serta manajemen dan koordinasi. Sampai Juni 2017, 38 kawasan dari seluruh dunia telah dicabut statusnya sebagai Cagar Biosfer.

>

>

>




Berita Seputar PIKA

Workshop Teknis Pengelolaan Portal Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Indonesia
Penataan Blok Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin- Jambi
Serunya Belajar sambil Outing Pada Peningkatan Kapasitas ASN Direktorat PIKA Tahun 2018
PELUNCURAN AWAL PORTAL BALAI KLIRING KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA
Inilah 3 Cagar Biosfer Baru di Indonesia
Bimtek Pemetaan III, Bimtek Terakhir PIKA di tahun 2018
Bimbingan Teknis dan Supervisi Inventarisasi Potensi Kawasan Konservasi di Balai KSDA Kalimantan Tengah
Penutupan Bimtek Pemetaan Tahura Angkatan II
PERAN SULTAN DAN RAJA DALAM PENUNJUKAN KAWASAN KONSERVASI DAN PELESTARIAN JENIS (1920 – 1938)
Bimtek Pemetaan untuk Tahura Angkatan I (26 Februari - 3 Maret 2018)
Bimbingan Teknis/Supervisi Terkait Penyusunan Penataan Blok Kawasan Konservasi di BBKSDA Papua Barat
" Taman Buru", si Anak Tiri dari Kawasan Hutan Konservasi
Katalog Kawasan Pemulihan Ekosistem Indonesia
PENILAIAN 23 (DUA PULUH TIGA) RANCANGAN BLOK KK BALAI BESAR KSDA JAWA BARAT
PENUTUPAN MAGANG GIS PEMBUATAN PETA ARAHAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI ANGKATAN VIII (20 – 26 Oktober 2017)
PERCEPATAN PENATAAN KAWASAN KONSERVASI
MAGANG GIS UNTUK PEMBUATAN PETA ARAHAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI MODEL ANALISA SPASIAL ANGKATAN VIII (16 – 20 OKTOBER 2017)
KESAN PESAN PESERTA MAGANG GIS PEMBUATAN PETA ARAHAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI ANGKATAN VII
Surat Perihal Data Desa Sekitar Kawasan Konservasi
Surat Perihal Peta Open Area dalam Kawasan Konservasi
MAGANG GIS UNTUK PEMBUATAN PETA ARAHAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI ANGKATAN 7 (2 – 6 OKTOBER 2017) DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI MODEL ANALISA SPASIAL
Perpres RI No. 88 Tahun 2017
Undangan Magang GIS Angkatan 7 dan 8
Step to Step Mengunduh Citra Landsat, MODIS di USGS EarthExplorer
Gelombang II: In House Training GIS Dit. PIKA
In House Traning GIS Dit. PIKA
Surat Edaran Pemberian Data dan Informasi Spasial Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Petunjuk Teknis Aplikasi Model Analisa Spasial dalam Pembuatan Peta Arahan Kawasan Konservasi
Hasil Target B04T17 UPT tentang Renaksi Percepatan Kebijakan Satu Peta
Penyelenggaraan Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2017
Birding and Photo Competition Matalawa
Apa Kesan Peserta Magang dan Bimtek Pemetaan GIS Direktorat PIKA?
Kunjungan Kerja Direktur PIKA Ke Taman Nasional Komodo
Peta Arahan Pengelolaan Kawasan Konservasi Hasil Magang GIS Tahun 2017
Acara Pelepasan Kepala Sub Direktorat Inventarisasi dan Informasi Kawasan Konservasi, Ir. Kuspriyadi Sulistyo, MP
Lowongan/Rekrutmen Fasilitator Desa Forest Programme III Sulawesi
Capaian Peserta Magang GIS Angkatan 1
Perubahan Jadwal Program Magang GIS untuk Pemetaan Arahan ZOna/Blok KK
CD DIGITAL MAP DALAM RANGKA CAPAIAN KEBIJAKAN SATU PETA


KemenLHK